Pendidikan merupakan elemen dasar dalam pembangunan nasional. Terciptanya sumber daya manusia yang berkualitas secara langsung akan memberi kontribusi bagi tercapainya pembangunan nasional. Dan sebaliknya rendahnya kualitas sumber daya akan memberi efek negatif dalam proses pembangunan nasional. Pendidikan adalah kata kunci pembangunan, melalui pembangunan pendidikan, proses pembangunan akan dapat berjalan dengan baik dan mencapai hasil yang diharapkan.

Untuk mencapai kemajuan maka sebuah bangsa harus melakukan perbaikan pendidikanya, dalam melakukan pembangunan tidak mungkin berhasil tanpa pendidikan yang baik. Pemanfaatan teknologi khususnya teknologi yang berhubungan dengan pendidikan diyakini dapat mempercepat dan memperbaiki proses pembelajaran. Kehadiran teknologi dalam dunia pendidikan sedikit banyak telah merubah banyak praktik pendidikan di berbagai negara di dunia.

Dalam konteks inilah maka diperlukan inisiatif-inisiatif yang komperehensif serta menumbuh kembangkan jiwa kewirausahaan untuk menyikapi tantangan dunia global yang semakin tinggi tingkat persaingannya, sehingga diperlukan pembinaan dan pengembangan produksi dan enterpreunership dengan pembuatan berbagai macam aplikasi software sebagai implementasi dari berbagai aplikasi bisnis berbasis teknologi informasi.

Salah satu fenomena menarik yang perlu dicermati dari lulusan sekolah menengah atas (SMA) termasuk sekolah menengah kejuruan di Indonesia adalah ketidakmampuan lulusannya untuk cepat beradaptasi dalam memenuhi kebutuhan dunia usaha dan dunia industri yang modern. Hal ini menyebabkan jumlah pencari kerja lulusan SMA yang terus membengkak. Seperti data yang tercatat di Dinas Tenaga Kerja dan Trasnmigrasi Provinsi Jawa Tengah tahun 2002, 2004 dan 2005 serta 2006 yang terus meningkat. Pada tahun 2002 tercatat jumlah pencari kerja lulusan SMA sejumlah 58.225 orang menjadi 112.258 orang pada tahun 2004 dan 144.314 orang pada tahun 2005 dan terus melonjak sangat drastis menjadi 312.525 pencari kerja lulusan SMA di tahun 2006.

Di sisi lain dunia usaha dan dunia industri kita belum dapat bersaing dalam percaturan global untuk memenuhi produk yang sesuai dengan keinginan pasar. Ada kecenderuangan dunia usaha dan dunia industri yang enggan melakukan penelitian dan pengembangan produknya. Sehingga industri kita kalau dibiarkan hanya mengarah sebagai traders yang melakukan bisnisnya berdasar lisensi pihak asing yang tidak membutuhkan rekayasa engineering. Jadi industri kita merasa nyaman untuk mengimport teknologi lalu merakit sedikit, kemudian menjualnya kepada masyarakat, sehingga nilai tambahnya untuk bangsa dan negara cenderung tidak optimal. Padahal banyak produk inovasi rekayasa yang dihasilkan oleh sekolah menengah kejuruan, misalnya melalui lomba-lomba kompetensi siswa atau sekarang dikenal promosi kompetensi siswa yang dilaksanakan setiap tahun secara berjenjang dari tingkat daerah, provinsi sampai tingkat nasional bahkan untuk kompetensi-kompetensi tertentu sudah sampai internasional yang hasilnya hanya sekedar untuk keperluan lomba saja tidak dimanfaatkan untuk dikembangkan sebagai produk yang sesuai dengan kebutuhan pasar.

Oleh karena itu diperlukan suatu komitmen bersama antara dunia usaha dan dunia industri dengan sekolah menengah kejuruan (SMK) yang didukung oleh kemauan politik dari pemerintah. Serta kepedulian para birokrat kependidikan dan pengusaha, untuk bekerja sama membangun dan melaksanakan Link and Match yang berpola Win-win Solution demi kemajuan sekolah menengah kejuruan sekaligus kemajuan dunia usaha dan dunia industri agar dapat bersaing di era global sekarang dan masa yang akan datang.

Sumber : www.rapendik.com