SMK sudah sejak lama dikenal sebagai sekolah yang identik dengan pencetak para alumni yang handal dan siap kerja. Namun terkadang masih banyak masyarakat kita yang terjebak dalam pemikiran sempit yang mendiskreditkan SMK sebagai tempat mendidik anak nakal dan orang yang tak mampu (maaf). Mengapa bisa dikatakan seperti itu, karena masih banyak para orang tua yang berparadigma bahwa SMK sebagai pilihan terakhir. Kata yang biasanya muncul ialah "wes pokoke sekolah" (sudah pokoknya sekolah). Itu menandakan bahwa pesimisme terhadap SMK tetap selalu ada. Padahal di luar negeri sendiri, pendidikan kejuruan bukan hal baru lagi. Sejak Tiongkok memasuki era reformasi dan membuka diri terhadap dunia luar (1978), sekolah kejuruan mendapat suntikan dana besar dari pemerintah. Pada tahun 2001, terdapat 17.770 sekolah kejuruan. Proporsi siswa kejuruan meningkat pesat dari 19% pada tahun 1980, mencapai hampir separuh yakni 45,3% pada tahun 2001.

 

Para tenaga pendidik juga mendapat perhatian besar dari pemerintah. Kelas-kelas khusus dibuka untuk meningkatkan kualitas pengajar. Ada sekitar 200 tempat pelatihan yang didirikan oleh departemen sentral dan pemerintah lokal.

 

Di Jerman, sejarah pendidikan kejuruan telah dimulai sejak abad ke 19. Sekolah jenis ini menekankan sistem pendidikan ganda dimana selain training kejuruan di sekolah, siswa juga diberi kesempatan untuk magang di perusahaan. Pada tahun 2001, sebanyak dua pertiga dari seluruh generasi muda berusia dibawah 22 tahun telah menjalani magang di perusahaan. Untuk mendukung perkembangan pendidikan ini, pada tahun 2004, pemerintah mengeluarkan peraturan yang menegaskan bahwa semua pemilik perusahaan, kecuali yang berskala kecil, wajib menerima siswa magang untuk bekerja di perusahaannya.

 

Sementara di Indonesia sendiri, sekolah kejuruan pertama kali dibangun pada tahun 1853 saat masih dalam pemerintahan Hindia Belanda. Sayangnya, saat itu hanya orang keturunan Eropa dan golongan bangsawan saja yang dapat bersekolah di sana. Sementara itu, sekolah kejuruan pertama setelah Indonesia merdeka dibangun pada tahun 1964. Saat itu, sekolah kejuruan mulai menjamur dengan nama STM (Sekolah Teknologi Menengah), SMEA (Sekolah Menengah Ekonomi Atas), SMIK (Sekolah Menengah Industri dan Kerajinan) dan SMM (Sekolah Menengah Musik). Dan pada awal kemunculannya, banyak didatangkan guru - guru dari luar negeri untuk mengajar siswa - siswa di Indonesia.

 

Berbeda dengan awal kemunculannya, SMK di era modern ini sudah banyak berubah. SMK modern saat ini banyak yang sudah berstandar internasional alias ISO. Itu sama halnya mengundang investor atau perusahaan untuk mencari lulusan SMK tersebut. Atau dengan kata lain, alumni SMK dicari oleh pekerjaan, bukan alumni yang mencari pekerjaan. Seandainya seorang siswa mampu mempelajari segala macam teori dan praktek yang diajarkan guru kemudian mampu menguasainya, bukan hal yang tidak mungkin dia akan direkrut dengan cepat oleh suatu perusahaan. Sudah banyak buktinya seorang alumni SMK bisa bekerja keliling dunia, bahkan guru yang telah mengajarinya belum tentu pernah merasakan keliling dunia.

 

SMK mengajarkan untuk hidup mandiri. Selain itu, SMK juga mencetak siswanya untuk siap kerja, jadi kalau anda lulus (dengan nilai baik dan etos kerja baik pastinya) dari SMK, andalah yang dicari oleh industri bukan anda yang mencari kerja. Jadi, tidak perlu lagi menganggap remeh dan skeptik tentang kapabilitas alumni SMK. Apalagi di era pemerintahan Bapak Jokowi saat ini, nama SMK sangat diperhitungkan. Karena di SMK-lah karya-karya dan ide-ide brilian siswa akan muncul. SMK Bisa, SMK Hebat!